malangtodaynews.com Peristiwa Kapolresta Malang Kota Gandeng Pengamat Kepolisian ISESS, Bekali 14 Taruna Akpol Belajar Langsung dari Masyarakat

Kapolresta Malang Kota Gandeng Pengamat Kepolisian ISESS, Bekali 14 Taruna Akpol Belajar Langsung dari Masyarakat

MALANG KOTA – Menjadi polisi profesional di masa depan tidak cukup hanya menguasai teori dan prosedur. Seorang perwira Polri juga dituntut memahami denyut kehidupan masyarakat, mampu berempati, serta mengambil keputusan yang tepat di tengah situasi yang penuh dinamika.

Pesan itulah yang menjadi benang merah dalam kegiatan Latihan Kerja (Latja) 14 Taruna Akpol Tingkat III Angkatan 58 Batalyon “Ksatriya Hawin Sarawahita” Jawa Timur yang berlangsung di Balai RW 09, Jalan Basuki Rachmad Gang 8, RT 05 RW 09, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, (Minggu Malam, 7/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 21.50 WIB tersebut menghadirkan Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana, Pengamat Kepolisian Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto, aktivis Mohammad Rafi Azzamy, jajaran pejabat utama Polresta Malang Kota, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Melalui metode live in, para taruna tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui diskusi, dialog, dan sambang lingkungan untuk memahami berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Putu Kholis menegaskan pengalaman lapangan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter calon pemimpin Polri yang profesional, humanis, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Kapolresta Malang Kota Gandeng Pengamat Kepolisian ISESS, Bekali 14 Taruna Akpol Belajar Langsung dari Masyarakat

“Kami berbagi pengalaman kepada para Taruna Akpol agar memahami tugas kepolisian tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum dan prosedur, tetapi juga pada kemampuan membaca situasi sosial, membangun empati, serta menjamin hak-hak masyarakat.” Ujar Kombes Pol Putu.

Polisi masa depan harus mampu hadir sebagai problem solver yang memahami kebutuhan masyarakat secara langsung. Diperlukan pemahaman terhadap karakter masyarakat, komunikasi yang baik, dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat serta tepat dalam situasi yang kompleks.

Kombes Pol Putu Kholis juga membagikan pengalamannya saat memimpin Polres Malang pada masa penanganan pasca Tragedi Kanjuruhan.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting bahwa kepemimpinan sering kali dihadapkan pada kondisi yang tidak memiliki pedoman baku sehingga dibutuhkan keberanian mengambil keputusan dengan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan.

“Kami ingin para taruna memahami bahwa SOP adalah fondasi penting, namun di atas itu ada aspek kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan. Karena itu, empati dan penghormatan terhadap hak asasi manusia harus menjadi bagian dari setiap keputusan yang diambil,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kombes Putu menjelaskan bahwa tantangan kepolisian ke depan akan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Karena itu, Polri harus membuka ruang kolaborasi dengan akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI).

Sementara itu, Pengamat Kepolisian ISESS Bambang Rukminto menekankan pentingnya membangun paradigma kepolisian yang humanis dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Metode Live In di Oro-Oro Dowo Jadi Laboratorium Kepemimpinan Humanis bagi Calon Perwira Polri

Menurut Bambang, penanganan aksi unjuk rasa memang harus tetap mengacu pada SOP, namun realitas lapangan sering kali menghadirkan situasi yang berbeda dengan teori yang dipelajari.

Bambang juga mengingatkan bahwa reformasi institusi kepolisian masih terus berjalan dan membutuhkan generasi pemimpin Polri yang memiliki wawasan luas, integritas tinggi, serta kedekatan dengan masyarakat.

Dalam forum dialog tersebut, Ketua RW 09 Kelurahan Oro-Oro Dowo, Rachman Wahyudi, mewakili warga menyampaikan bahwa masyarakat berharap para taruna mampu menjadi pemimpin Polri yang memahami realitas lapangan dan tidak hanya berpegang pada teori.

“Masyarakat memahami bahwa kondisi di lapangan memiliki kompleksitas tersendiri. Kami berharap para taruna kelak menjadi pemimpin Polri yang semakin dekat dengan masyarakat dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Rachman Wahyudi.

Ia juga menegaskan bahwa kepolisian tidak boleh dipandang sebagai momok oleh masyarakat, melainkan sebagai mitra yang dapat diajak berdialog, belajar bersama, dan membangun solusi atas berbagai persoalan sosial.

Latja Taruna Akpol ini menjadi gambaran bagaimana proses pendidikan kepolisian tidak hanya berlangsung di lingkungan akademik, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, para calon perwira Polri diharapkan mampu memahami persoalan sosial secara komprehensif, membangun empati, serta tumbuh menjadi pemimpin yang profesional, humanis, dan dipercaya masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *